In Press

Tak ada istilah terlambat untuk memulai sesuatu yang baru. Termasuk dalam mengembangkan usaha. Itulah yang dilakukan Linda Sudarsono (kini 46 tahun), yang memulai bisnis sebagai pengusaha Batik Lasem 6 tahun lalu. “Kenapa mulai bisnis di usia 40? Kan ada ungkapan: Life begins at forty,” katanya seraya tersenyum.

 

Uniknya, Linda mengaku sebenarnya  tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan di bidang  fashion. Ia juga mengaku sebelumnya tidak terlalu mengenal seni batik. Dalam kesehariannya, Linda sendiri lebih suka memakai kaus dan celana jins.  “Sebenarnya, semua mengalir saja. Awalnya, saya tidak terlalu menyukai batik, dan tidak berniat untuk jadi desainer,” katanya.  Lalu, setelah terjun ke bisnis batik, mengapa ia memilih Batik Lasem?  “Karena saya ada ‘darah Lasem’ dari garis Papa,” katanya lagi.

 

Menurut wanita kelahiran Jakarta 27 September 1969 ini, awalnya ia menjadi pengusaha dan desainer batik secara tidak sengaja pada November 2010. Maklum, ketika itu batik baru mulai booming. Iparnya mengajaknya berbisnis batik. Namun praktiknya, saudaranya itu tidak punya waktu untuk menjalankan bisnis batik tersebut. “Akhirnya saya jalankan sendiri. Tadinya cuma mau menjual kain karena ipar saya paham kain.  Tapi,  saya ini orangnya nggak sabaran. Akhirnya saya buat baju, terus dijual ke teman-teman,” tuturnya.

 

Dengan modal awal sekitar Rp 30 juta, Linda mulai mengembangkan usaha pembuatan batik. Didukung tiga orang penjahit, Linda pun mulai merancang dan membuat batik tulis dengan merek Batique by Linda. Harga jualnya mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 5 jutaan per potong. “Dari dulu, saya sebenarnya tidak punya bakat menggambar atau menjahit. Saya hanya menjelaskan secara terperinci ke penjahit: maunya begini, bentuk dan modelnya seperti apa,” ungkap Linda.

 

Order pertama yang diterimanya adalah merancang gaun untuk  klien pertamanya, yang tak lain sahabatnya sendiri, Veronica (Vonny) Lawantara.Vonny kemudian memotret gaun batik itu dan menggunakannya sebagai display picture BlackBerry Messenger. Dari situ, kisah sukses dimulai. Selanjutnya Linda merancang blus untuk Vonny, kemudian baju baby doll, kemeja pria untuk bekerja, gaun cocktail, hingga ia menerima pesanan 100 potong seragam batik kantoran.

 

Setelah mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri, popularitas Batique by Linda semakin meluas.  Order pun makin deras.  Produk batik Linda dipajang di gerai keren seperti di Grand Indonesia (Alun Alun Indonesia), Kemang Village,  Central Park, dan di gerai-gerai yang ada di Bali.

 

Kini, istri Asan Sutjianto ini tak cuma membuat dan menjual Batik Lasem.  Belakangan  Batik Cirebon dan Batik Yogya pun digarapnya. Untuk pasokan bahan bakunya, Linda sudah menjalin kerja sama dengan para perajin batik, yaitu dengan lima perajin di Lasem, tiga orang di Cirebon, dan dua orang di Yogya.

 

Menurut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta ini, banyak orang yang menjual batik. Karenanya, salah satu strategi yang dilakukannya agar Batique by Linda dilirik pasar adalah dengan membuat batik yang lebih spesifik. Linda pun menegaskan diri untuk tidak menjual batik print. Lebih dari 80% batik yang diproduksi Linda merupakan batik tulis, sedangkan sisanya batik cap. “Kalau batik cap, saya masih mau karena batik jenis ini melalui proses rumit. Untuk menjangkau berbagai segmen, saya memadukan batik cap dan tulis agar harganya lebih miring,” Linda menjelaskan.

 

Selain itu, ibu dua anak ini juga aktif berpromosi, seperti di media sosial Instagram. Ia tergolong rajin mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Rupanya sambutan pasar terhadap produk batik buatan Linda cukup bagus. Ia mengaku ketika fashion show di Jepang pada Oktober 2015 sempat terharu karena apresiasinya sangat bagus.

 

Saat ini, jumlah produksi Batique by Linda mencapai lebih dari 200 potong setiap bulan. Menurut Linda, pihaknya tidak terlalu banyak menyimpan stok.  Justru salah satu kekuatan Batique by Linda adalah kemampuannya memproduksi secara customizeDengan begitu, produk batik yang dijual Linda tidak pasaran. Juga, pendekatan dan desainnya dilakukan secara personal. “Saya melakukan pendekatan personal dan mendesainnya secara khusus. Itu yang membuat klien merasa baju yang saya buat itu sebagai a private collection, tidak mungkin sama dengan baju orang lain,” Linda memaparkan.

 

Tak hanya customize, busana batik Batique by Linda juga diproduksi dengan berbagai model, seperti crop top, celana pendek, blus, baju muslim, busana cocktail party, dan sebagainya. “Saya mau menunjukkan bahwa batik bisa dipakai  semua orang dan tidak hanya dipakai untuk kondangan saja,” ucap Linda, yang pada Mei nanti mendapat beasiswa dari Kedubes Australia untuk belajar short course di Brisbane, Australia.  Ke depan, Linda berharap bisa memiliki  gerai batik sendiri.

 

Salah seorang pelanggan setia Batique by Linda,  Vonny Lawantara, mengaku puas menggunakan batik karya sahabatnya itu. Menurut Vonny, kebanyakan motif busana batik membosankan. Ini berbeda dari batik yang didesain Linda, yang dinilainya mampu memadukan dua motif batik yang berbeda. Selain itu, modelnya pun unik, tidak membosankan, dan yang tak kalah penting, harganya reasonable dengan kualitasnya. “Sampai sekarang saya sudah punya koleksi Batique by Linda sekitar 100 (potong).  Satu lemari dua pintu saya khusus untuk Batique by Linda,” ucap Vonny sambil tertawa. “Semoga Linda tetap semangat dan mau belajar terus, walaupun dia sudah cukup kreatif,” katanya lagi mendoakan. (Riset: Sarah Ratna Herni)

Source : https://swa.co.id/swa/profile/profile-entrepreneur/cara-linda-sudarsono-mendongkrak-pamor-batik

Recent Posts

Start typing and press Enter to search